Pages

Rabu, 20 Juni 2012

Askep Scabies

Askep Scabies 


 











BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestisasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Sinnim dari penyakit ini adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo.
Penyakit scabies ini merupakan penyakit menular oleh kutu tuma gatal sarcoptes scabei tersebut, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter.
Akibatnya, penyakit ini menimbulkan rasa gatal yang panas dan edema yang disebabkan oleh garukan. Kutu betina dan jantan berbeda. Kutu betina panjangnya 0,3 sampai 0,4 milimeter dengan empat pasang kaki, dua pasang di depan dengan ujung alat penghisap dan sisanya di belakang berupa alat tajam. Sedangkan, untuk kutu jantan, memiliki ukuran setengah dari betinanya. Dia akan mati setelah kawin. Bila kutu itu membuat terowongan dalam kulit, tak pernah membuat jalur yang bercabang.
Syarat obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya murah.
B.       Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka kami selaku penulis mengangkat beberapa permasalahan, yaitu bagaimana konsep dasar dan konsep keperawatan pada klien dengan scabies, khususnya pada anak?
C.      Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk membahas konsep dasar dari scabies dan mengetahui proses keperawatan pada klien dengan scabies.

BAB II
KONSEP DASAR SCABIES
A.      Definisi
Scabies  merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh seekor tungau (kutu/mite) yang bernama Sarcoptes scabei, filum Arthopoda , kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia oleh S. scabiei var homonis, pada babi oleh S. scabiei var suis, pada kambing oleh S. scabiei var caprae, pada biri-biri oleh S. scabiei var ovis.                         
Penyakit scabies ini merupakan penyakit menular oleh kutu tuma gatal Sarcoptes scabei, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter.
Kecil ukurannya, hanya bisa dilihat dibawah lensa mikroskop, yang hidup didalam jaringan kulit penderita, hidup membuat terowongan yang bentuknya memanjang dimalam hari. Itu sebabnya rasa gatal makin menjadi-jadi dimalam hari, sehingga membuat orang sulit tidur. Dibandingkan penyakit kulit gatal lainnya, scabies merupakan penyakit kulit dengan rasa gatal yang lebih dibandingkan dengan penyakit kulit lain.
Sinonim dari penyakit ini adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo.  Akibatnya, penyakit ini menimbulkan rasa gatal yang panas dan edema yang disebabkan oleh garukan. Kutu betina dan jantan berbeda. Kutu betina panjangnya 0,3 sampai 0,4 milimeter dengan empat pasang kaki, dua pasang di depan dengan ujung alat penghisap dan sisanya di belakang berupa alat tajam. Sedangkan, untuk kutu jantan, memiliki ukuran setengah dari betinanya. Dia akan mati setelah kawin. Bila kutu itu membuat terowongan dalam kulit, tak pernah membuat jalur yang bercabang.
Di dalam terowongan ini, kutu bersarang dan mengeluarkan telurnya. Dalam waktu tujuh sampai 14 hari, telur menetas dan membentuk larva yang dapat berubah menjadi nimfa, selanjutnya terbentuk parasit dewasa. Hal yang paling disukai kutu betina adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, yaitu daerah sekitar sela jari longlegs dan tangan, siku, pergelangan tangan, bahu, dan daerah kemaluan. Pada bayi yang memiliki kulit serba tipis, telapak tangan, kaki, muka, dan kulit kepala sering diserang kutu tersebut.
Faktor penunjang penyakit ini antara lain social ekonomi rendah, hygiene buruk, sering berganti pasangan seksual, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografis serta ekologik. Penularan penyakit skabies inidapat terjadi scara langsung maupun tidak langsung, karenanya tak heran jika penyakit gudik (skabies) dapat dijumpai di sebuah keluarga, di kelas sekolah, di asrama, di pesantren. 


B.       Etiologi
Scabies dapat disebabkan oleh kutu atau kuman Sercoptes scabei varian hominis. Sarcoptes scabieiini termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var hominis. Kecuali itu terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi. Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2pasang longlegs di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2pasang longlegs kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan longlegs ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat. Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari. Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3-4 hari, kemudian larva meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi. Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7-14 hari.Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang penyakit skabies ini.


C.      Pengklasifikasian Skabies
Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain (Sungkar, S, 1995):
1.         Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated). Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.
2.         Skabies incognito. Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.
3.         Skabies nodular. Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti scabies dan kortikosteroid.
4.         Skabies yang ditularkan melalui hewan. Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha,
perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 – 8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.
5.         Skabies Norwegia. Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan scabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembangbiak dengan mudah.
6.         Skabies pada bayi dan anak. Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. (Harahap. M, 2000).
7.         Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden). Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas. (Harahap. M, 2000).


D.      Manifestasi Klinis
Diagnosis dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal berikut :
1.         Pruritus noktuma (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas.
2.          Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seliruh anggota keluarga.
3.         Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1cm, pada uung menjadi pimorfi (pustu, ekskoriosi). Tempat predileksi biasanya daerah dengan stratum komeum tpis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mammae dan lipat glutea, umbilicus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang bagian telapak tangan dan telapak kaki bahkan seluruh permukaan ulit. Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala dan wajah.
4.         Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostk. Dapat ditemikan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
Pada pasien yang selalu menjaga hygiene, lesi yang timbul hanya sedikit sehingga diagnosis kadang kala sulit ditegakkan. Jia penyakit berlangsung lama, dapat timbul likenifikasi, impetigo, dan furunkulsis.


E.       Patofisiologi Skabies
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan leh sensitisasi terhadap secret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemuannya papul, vesikel, dan urtika. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.

Tungau scabies penderita sendiri dan digaruk

Kontak kulit kuat

Bersalaman bergandengan

Timbul lesi

Pergelangan tangan

Gatal

Sensitivitas terhadap secret

Waktu 1 bulan setelah infestasi

Timbul papul,vesikel,urtika timbul erosi,eks koriosi, krusta

Digaruk infeksi skunder

Kelainan kulit dermatitis menyebar luas
F.       Pemeriksaan Penunjang
Cara menemukan tungau :
1.         Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung dapat terlihat papul atau vesiel. Congkel dengan jarum dan letakkan diatas kaca obyek, lalu tutup dengan aca penutup dan lhat dengan mikroskop cahaya.
2.         Dengan cara menyikat dengan siat dan ditampung diatas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
3.         Dengan membuat bipsi irisan, caranya ; jepit lesidengan 2 jari kemudian buat irisa tipis dengan pisau dan periksa dengan miroskop cahaya.
4.         Dengan biopsy eksisional dan diperiska dengan pewarnaan HE.
G.      Penatalaksanaan
Syarat obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya murah.
Jenis obat topical :
1.         Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Pada bayi dan orang dewasa sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat aman dan efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur, berbau, mengotori pakaian dan dapat menimbulkan iritasi.
2.         Emulsi benzyl-benzoat 20-25% efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
3.         Gama benzena heksa klorida (gameksan) 1% daam bentuk krim atau losio, termasuk obat pilihan arena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak dianurkan pada anak dibawah umur 6 tahun dan wanta hamil karena toksi terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cup sekali dalam 8 jam. Jika masihada gejala, diulangi seminggu kemudian.
4.         Krokamiton 10% dalamkrim atau losio mempunyaidua efek sebagai antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra. Krim( eurax) hanya efetif pada 50-60% pasien. Digunakan selama 2 malam berturut-turut dan dbersihkan setelah 24 jam pemakaian terakhir.
5.         Krim permetrin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman arena sangat mematikan untuk parasit S.scabei dan memiliki toksisitas rendah pada manusia.
6.         Pemberian antibitika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya bernanah di area yang terkena (sela-sela jari, alat kelamin) akibat garukan.



BAB III
PROSES KEPERAWATAN
A.     Pengkajian
1.         Biodata
a.         Identitas pasien
b.        Identitas orang tua
2.         Riwayat kesehatan
a.         Keluhan utama
Pada pasien scabies terdapat lesi dikulit bagian punggung dan merasakan gatal terutama pada malam hari.
b.        Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mulai merasakan gatal yang memanas dan kemudian menjadi edema karena garukan akibat rasa gatal yang sangat hebat.
c.         Riwayat kesehatan dahulu
Pasien pernah masuk RS karena alergi.
d.        Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga pasien ada yang menderita penyakit seperti yang klien alami yaitu kurap, kudis.
3.         Pola fungsi kesehatan
a.         Pola persepsi terhadap kesehatan
Apabila sakit, klien biasa membeliobat di tko obat terdeat atauapabila tidak terjadi perubahan pasien memaksakan diri ke puskesmas atau RS terdekat.
b.        Pola aktivitas latihan
Aktivitas latihan selama sakit : Aktivitas 0 1 2 3 4
1)        Makan
2)        Mandi
3)        Berpakaian
4)        Eliminasi
5)        Mobilisasi di tempat tidur
Keterangan
0 : Mandiri
1 : Dengan menggunakan alat bantu
2 : Dengan menggunakan bantuan dari orang lain
3 : Dengan bantuan orang lain dan alat bantu
4 : Tergantung total, tidak berpartisipasi dalam beraktivitas
c.          Pola istirahat tidur
Pada pasien scabies terjadi gangguan pola tidur akibat gatal yang hebat pada malam hari.
d.        Pola nutrisi metabolik
Tidak ada gangguan dalam nutrisi metaboliknya.
e.         Pola elimnesi
Klien BAB 1x sehari, dengan konsitensi lembek, wrna kuning bau khas dan BAK 4-5x sehari, dengan bau khas warna kuning jernih.
f.         Pola kognitif perceptual
Saat pengkajian kien dalam keadaan sadar, bicara jelas, pendengaran dan penglihatan normal.
g.        Pola peran hubungan : Sistem dukungan orang tua.
h.        Pola konsep diri
i.          Pola seksual reproduksi
Pada klien scabies mengalami gangguan pada seksual reproduksinya.
j.          Pola koping
1)        Masalah utama yang terjadi selama klien sakit, klien selalu merasa gatal, dan pasien menjadi malas untuk bekerja.
2)        Kehilangan atau perubahan yang terjadi  klien malas untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
B.     Diagnosa Keperawatan
1.         Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi.
2.         Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa gatal yang hebat khususnya pada malam hari.
3.         Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan.
4.         Ansietas  berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
5.         Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema.
6.         Resiko infeksi  dengan factor risiko:
a.         Jaringan kulit rusak
b.        Prosedur infasif
C.      Rencana Intervensi 
Dx 1: Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi.
Tujuan :  Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan nyeri klien dapat teratasi dengan
KH:
1.         Nyeri terkontrol
2.         Gatal mulai hilang
3.          Puss hilang
4.         kulit tidak memerah  
Intervensi:
1.          Kaji intensitas nyeri, karakteristik dan catat lokasi.
2.         Berikan perawatan kulit dengan sering, hilangkan rangsangan lingkungan yang kurang menyenangkan.
3.         Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesic.
4.         kolaborasi pemberian antibiotika.
Dx 2: Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa gatal yang hebat khususnya pada malam hari.
Tujuan :  Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan tidur klien tidak terganggu.
KH :
1.      Mata klien tidak bengkak lagi.
2.      Klien tidak sering terbangun di malam hari.
3.      Klien tidak pucat.
Intervensi:
1.       Kaji tidur klien
2.      Berikan kenyamanan pada klien (kebersihan tempat tidur klien)
3.      Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetic.
4.      Catat banyaknya klien terbangun dimalam hari.
5.      Berikan lingkungan yang nyaman dan kurangi kebisingan.
6.      Berikan minum hangat (susu) jika perlu.
7.      Berikan musik klasik sebagai pengantar tidur
Dx 3 : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan klien tidak mengalami gangguan dalam cara penerapan citra diri.
KH :
1.      Mengungkapkan penerimaan atas penyakit yang di alaminya.
2.      Mengakui dan memantapkan kembali system dukungan yang ada.
Intervensi:
1.      Dorong individu untuk mengekspresian perasaan khususnya mengenai pikiran, pandangan dirinya.
2.      Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah penanganan, perkembangan kesehatan.
Dx 4 : Ansietas  berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan klien tidak cemas lagi.
 KH :
1.      Klien tidak resah
2.      Klien tampak tenang dan mampu menerima kenyaataan
3.      Klien mampu mengidentifiasi dan mengungkapkan gejala cemas
Intervensi:
1.      Identifiasi kecemasan
2.      Gunakan pendekatan yang menyenangkan.
3.      Temani pasien untuk memberian keamanan dan mengurangi takut.
4.      Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan.
5.      Berikan informasi faktual tentang diagnosis, tindakan prognosis.
6.      Berikan obat untuk mengurangi kecamasan
Dx 5 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan lapisan kulit klien terlihat normal.
KH :
1.       Integritas kulit yang baik dapat dipetahankan (sensasi, elastisitas, temperatur).
2.      Tidak ada luka atau lesi pada kulit.
3.      Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit serta perawatan alami.
4.      Perfusi jaringan baik .
Intervensi:
1.      Anjurkan pasien menggunakan pakaian yang longgar.
2.       Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.
3.      Monitor kulit akan adanya kemerahan.
4.      Mandikan pasien dengan air hangat dan sabun
Dx 6 : Resiko infeksi  dengan factor risiko:
a.         Jaringan kulit rusak
b.        Prosedur infasif
Tujuan :  Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan klien tidak terjadi resiko infeksi.
KH :
1.      Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
2.      Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.
3.      Menunjukkan perilaku hidup sehat.
4.      Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan dan penatalaksanaannya.
Intervensi:
1.      Monitor tanda dan gejala infeksi.
2.      Monitor kerentanan terhadap infeksi.
3.      Batasi pengunjung bila perlu.
4.      Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah meninggalkan pasien.
5.      Pertahankan lingkngan aseptic selama pemasangan alat.
6.      Berikan perawatan kulit pada area epidema.
7.      Inspeksi kulit dan membrane mukosa terhadap kemerahan, panas.
8.      Inspeksi kondisi luka
9.      Berikan terapi anibiotik bila perlu.
10.  Ajarkan cara menghindari infeksi.
BAB IV
PENUTUP
A.     Kesimpulan 
Penyakit scabies ini merupakan penyakit menular oleh kutu tuma gatal sarcoptes scabei tersebut, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter.
Akibatnya, penyakit ini menimbulkan rasa gatal yang panas dan edema yang disebabkan oleh garukan. Kutu betina dan jantan berbeda. Kutu betina panjangnya 0,3 sampai 0,4 milimeter dengan empat pasang kaki, dua pasang di depan dengan ujung alat penghisap dan sisanya di belakang berupa alat tajam. Sedangkan, untuk kutu jantan, memiliki ukuran setengah dari betinanya. Dia akan mati setelah kawin. Bila kutu itu membuat terowongan dalam kulit, tak pernah membuat jalur yang bercabang.
Syarat obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya murah.
DAFTAR PUSTAKA
Defka. 2010. Asuhan Keperawatan Skabies. (http://defkanurse.wordpress.com/2010/08/06/asuhan-keperawatan-skabies/, diakses tanggal 18 Januari 2011).
Mansjoer, Arif., Suprohaita, Wardhani, W.A., dan Setiowulan, wiwiek │Eds.│. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Auscalapius.
Nenk. 2009. Skabies (http://www.lenterabiru.com/2009/09/skabies.htm, diakses tanggal 18 Januari 2011).
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak.      Jakarta:  Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Thanks Dah Pada Mampir

0 komentar:

Posting Komentar